Mengupas problematika pendidikan di Indonesia sama halnya seperti kita memotong kuku yang hanya diperhatikan saat sudah panjang, dipotong agar terlihat bersih dan bagus, lalu kembali seperti sedia kala. Ini dibuktikan dengan nihilnya perubahan berarti yang dialami masyarakat Indonesia untuk merasakan sebuah pendidikan yang sebenar-benarnya, yaitu pendidikan yang mampu menjadikan kita sebagai manusia yang sebenar-benarnya. Sehingga, inovasi-inovasi yang diberikan pada setiap masa pemerintahan dalam ranah pendidikan pun hanya akan menjadi sebuah ilusi yang ke depannya justru menambah keruh dunia pendidikan yang ada.
Kapitalisme dalam pendidikan adalah kata kunci untuk dapat mengenal permasalahan pendidikan kita. Mengapa? karena sistem pendidikan kita hari ini menjadikan kita secara eksplisit maupun implisit, sebagai tenaga baru dan segar yang pada akhirnya dapat menunjang profit bagi para pemilik modal. Jadi, biaya yang selama ini kita keluarkan untuk menunjang dan membiayai pendidikan kita sendiri selama belasan tahun, adalah modal untuk hanya bisa sekadar bekerja lalu pensiun bahkan dipecat!
Dan pada dasarnya, kamu hari ini sedang berada di pabrik berkedok intelektual yang membentuk dirimu menjadi pasukan tempur agar siap dihisap untuk memperkaya para pemilik modal.
Lalu, bagaimana kita bisa menjadi manusia yang sebenar-benarnya sedangkan pendidikan nyatanya tidak memberikan hal itu? Jika kamu tanyakan itu pada guru atau dosenmu, mungkin kamu hanya akan ditertawai atau mungkin diberikan khotbah panjang x lebar karena kamu terlalu kritis bertanya melebihi guru atau dosenmu sendiri.
Baca juga: Kapitalisme dalam Pendidikan Kita
Saatnya Belajar Dari Revolusi Pinguin
Belum lama ini, revolusi pendidikan pecah di Chili dan berhasil mengubah sistem pendidikan di sana. Gerakan tersebut bahkan diinisiasi oleh para pelajar yang notabene berusia 15 hingga 18 tahun (SMA) dan berhasil menghimpun berbagai federasi maupun lapisan masyarakat pada umumnya seperti serikat-serikat mahasiswa, serikat-serikat guru, kaum buruh, petani, rakyat miskin, dan masyarakat adat.
Gerakan tersebut ditengarai oleh proses neoliberalisasi yang merambah kedalam sistem pendidikan chili dan menjadikannya sebagai barang mewah yang hanya dapat dirasakan oleh segelintir orang saja. Menurut Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Chili merupakan negara dengan pendidikan yang termahal di dunia, yaitu mencapai 3.400 dolar per tahun. Padahal gaji rata-rata pekerja di Chili hanya 8.500 dolar.
Ini berarti setiap keluarga membayar biaya pendidikan 75% dari total pendapatan. Sebagai perbandingan, keluarga di Skandinavia mengeluarkan 5%, dan di Amerika Serikat rata-rata 40%. Tekanan struktural tersebut berkontribusi meningkatkan angka depresi di masyarakat, yang menjadi penyebab utama melonjaknya jumlah kasus bunuh diri pada remaja Chili. Sungguh sangat ironi.
Gerakan tersebut pecah pada bulan Mei 2006, mobilisasi massa yang dilakukan berusaha untuk menekan perubahan UU pendidikan yang ada di sana. Namun perubahan yang diinginkan nyatanya belum mampu terwujud tetapi gerakan tersebut mampu membuat pemerintah memberikan kembali uang dari masyarakat dengan menganggarkan biaya untuk pendidikan sebesar 200 miliyar dolar bagi pendidikan tingkat dasar. Namun, setelah mendapatkan hasil, gelombang masa belumlah surut karena hasil tersebut memang masih belum memenuhi tuntutan.
5 tahun kemudian yaitu pada tahun 2011, gerakan revolusioner kembali memuncak dan bahkan dengan skala yang lebih besar. Gerakan yang kali ini dinamai sebagai gerakan musim dingin, telah bertransformasi menjadi sebuah gerakan politik yang membuat takut pemerintah. Sekolah-sekolah di duduki selama berbulan-bulan, pemogokan dilakukan oleh para pelajar, guru, mahasiswa dan dosen pun dilakukan selama berbulan-bulan lamanya. Bahkan setiap perundingan yang dilakukan pemerintah terhadap massa selalu tidak membuahkan hasil karena massa menolak jika seluruh tuntutan yang ada hanya mampu diakomodir sebagiannya saja.
Ketakutan ini akhirnya melahirkan solusi pembendungan massa dari pemerintah yaitu dengan melakukan tindakan represif untuk mencegah aksi ini agar tidak semakin meluas. Tindakan tersebut menyebabkan 40 orang pelajar ditahan dan 1 orang pelajar meninggal akibat brutalitas yang dilakukan oleh aparat keamanan terhadap para pelajar. Bukan hanya itu, mereka juga menyusupkan para preman dan intel untuk memercikan kerusuhan di aksi-aksi damai, menerapkan peraturan larangan turun ke jalan demi keamanan nasional. Dan, ini pasti terjadi pada setiap pemerintah di dunia saat mengalami ketakutan yang akut.
Hal ini tidak membuat masyarakat takut untuk melanjutkan gerakan revolusioner tersebut. Sehingga, radikalisasi gerakan justru terus menyebar ke setiap kota baik kota-kota besar maupun kota kecil. Hal tersebut membuat pemerintahan Chili saat itu sangat tertekan dan terpaksa mengeluarkan pernyataan bahwa jika subsidi dikeluarkan, maka akan timbul penyalahgunaan subsidi di mana subsidi yang seharusnya tidak diperuntukkan bagi orang-orang kaya, justru dimanfaatkan oleh mereka. Namun, pernyataan ini menimbulkan skeptisme digerakkan tersebut dan membantah dengan rangkaian pengkajian yang tepat sasaran.
Setelah pengkajian mendalam, pada akhirnya gerakan menemukan solusi baru yaitu dengan diterapkannya pajak progresif bagi para orang kaya dan perusahaan-perusahaan multinasional guna membiayai pendidikan publik yang gratis serta bervisi kerakyatan. Bukan hanya itu, gerakan melakukan jajak pendapat yang menghasilkan 80% masyarakat Chili menyepakati tuntutan gerakan tersebut.
Dari beragam skema serta konsistensi yang dimiliki oleh gerakan rakyat tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada Desember 2014, menteri dalam negeri Chili akhirnya membuka suara dan menjanjikan bahwa tuntutan yang mereka keluarkan dalam hal pendidikan ini akan diakomodir sepenuhnya dan pendidikan akan digratiskan 100% pada Maret 2016. Sehingga, pembiayaan pendidikan publik ditingkat Universitas yang membutuhkan 8.3 juta dollar setiap tahun, akan diperoleh dengan memberlakukan pajak progresif 27% kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Chili.
Pelajaran Apa yang Bisa Kita Ambil?

Selama revolusi pinguin berlangsung, konsistensi merupakan kunci utama sehingga diaspora gerakan dapat menyebar dari hulu hingga hilir, dari kalangan budayawan hingga intelektual, dari kalangan masyarakat miskin hingga masyarakat pekerja, dari pelajar hingga mahasiswa dan dari kota hingga ke desa. Karena konsistensi yang kita lakukan, melahirkan kualitas dan dari kualitas melahirkan kuantitas yang nantinya akan menjadi senjata kita meruntuhkan neoliberalisme dalam pendidikan kita. Secara intelektual, secara gerakan.
Sejauh ini, penulis juga mempelajari pola gerakan di Indonesia yang selalu bersikutan antara kepentingan masyarakat publik dengan kepentingan-kepentingan penguasa yang terselubung dibalik itu semua. Hal ini mengakibatkan perpecahan diantara kalangan aktivis bahkan penggembosan gerakan, konsekuensi dari perpecahan yang ada. Sehingga, kita perlu menyingkirkan kepentingan yang ada kecuali kepentingan publik masyarakat.
Sedangkan metode yang perlu dilakukan, saya rasa itu merupakan hal teknis yang dapat disesuaikan dengan kondisi terkini. Namun, sebuah metode merupakan hal penting karena tanpa sebuah metode maka gerakan kita hanya akan menjadi sebuah huru-hara yang melahirkan sikap barbarisme dan kriminal. Metode paling dasar yang dapat dipelajari dari revolusi pinguin adalah:
- Menyatukan berbagai lapisan dan kalangan organisasi, federasi, maupun perhimpunan.
- Mengadakan diskusi-diskusi dan kajian-kajian yang konsisten dan terencana.
- Gencar melakukan agitasi dan propaganda yang tidak monoton dan terpaku oleh berbagai tradisi-tradisi lama.
Dan satu pesan yang ingin saya sampaikan, bahwa cara-cara aparat keamanan yang berusaha mengajak kita berdiskusi atau bermediasi dalam sebuah aksi merupakan salah satu cara lain dari represifitas yang biasa mereka lakukan dengan cara brutal. JANGAN PERNAH TAKUT DENGAN MEREKA! Dan sebuah perubahan tanpa teori dan metode hanyalah sebuah angan-angan belaka, utopia dan sangat cocok untuk dibayangkan pada saat kamu buang air besar di wc saja.
Penulis: Zulfian H. Y. Pramuji (Mahasiswa Pendidikan Sejarah UHAMKA Angkatan 2019)
Referensi:
- Majalah Sedane: Revolusi Pinguin dan Gerakan Musim Dingin : Belajar dari Pengalaman Perlawanan Pelajar di Chile.
https://majalahsedane.org/revolusi-penguin-dan-gerakan-musim-dingin-belajar-dari-pengalaman-perlawanan-pelajar-di-chile/ - Perhimpunan Merdeka: Belajar dari Revolusi Pinguin. https://perhimpunanmerdeka.wordpress.com/2015/09/27/belajar-dari-revolusi-penguin/
